
Jakarta, lensademokrasi.com — Tragedi longsor tambang Galian C di kawasan Gunung Kuda, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi peristiwa kelam di penghujung Mei 2025. Belasan nyawa melayang dalam insiden yang menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat.
Bencana terjadi pada Jumat (30/5/2025) ketika material batu dan tanah dari ketinggian sekitar 200 meter tiba-tiba runtuh, menimbun puluhan pekerja, kendaraan, serta alat berat yang sedang beroperasi di area pertambangan. Rekaman detik-detik longsor tersebar luas di media sosial, memperlihatkan dahsyatnya bencana yang terjadi hanya dalam hitungan detik.
Hingga Minggu (1/6/2025), tim SAR gabungan telah menemukan 18 korban tewas. Korban terbaru yang berhasil dievakuasi pada hari ketiga pencarian adalah Nalu Sanjaya. Proses pencarian masih terus dilakukan terhadap tujuh orang lainnya yang dilaporkan masih tertimbun.
“Pada pukul 10.41, kami menemukan satu jenazah atas nama Nalu Sanjaya. Dengan demikian total korban tewas menjadi 18 orang,” kata Komandan Kodim 0620 Kabupaten Cirebon, Letkol Inf M Yusron, saat memberikan keterangan kepada wartawan.
Jejak Sejarah di Balik Nama Gunung Kuda
Gunung Kuda, tempat kejadian perkara, bukan sekadar lokasi geografis. Kawasan ini menyimpan kisah panjang yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Menurut pegiat sejarah asal Majalengka, Nana Rohmana atau yang akrab disapa Naro, nama Gunung Kuda berasal dari peristiwa bersejarah pada abad ke-16. Kala itu, pasukan Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Demak melakukan pergerakan militer untuk menyerang Kerajaan Rajagaluh. Sebelum bertempur, mereka berhenti di kawasan yang kini disebut Gunung Kuda untuk mengistirahatkan kuda-kuda perang.
“Nama Gunung Kuda muncul karena di tempat itu, kuda-kuda pasukan diikat dan diistirahatkan. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1528,” jelas Naro, Sabtu (31/5/2025).
Pertempuran tersebut menandai kekalahan Rajagaluh dan menjadi titik penting dalam ekspansi Kesultanan Cirebon ke wilayah Jawa Barat. Sejarah mencatat, kekuatan koalisi Cirebon-Demak berhasil meluluh-lantakkan Rajagaluh dan memperluas pengaruh politik Islam saat itu.
Gunung Kuda, Lumbung Fosil Laut di Tengah Daratan
Tak hanya memiliki nilai historis, Gunung Kuda juga dikenal sebagai kawasan geologi yang unik. Pada masa kolonial Belanda, seorang dokter dan ahli paleontologi asal Belanda, Von Koenigswald, pernah melakukan penelitian di wilayah ini. Hasil penelitiannya mengejutkan: ia menemukan banyak fosil laut di kawasan yang jauh dari garis pantai.
“Von Koenigswald menemukan berbagai fosil laut di Gunung Kuda, menjadikannya seperti lumbung fosil. Ia meyakini gunung ini dulunya adalah dasar laut,” ungkap Naro.
Kandungan batuan di kawasan tersebut diketahui memiliki unsur kapur tinggi dan tekstur yang lebih halus dibanding batuan gunung biasa. Temuan ini memperkuat teori bahwa Gunung Kuda adalah bagian dari dasar laut purba yang terangkat akibat aktivitas geologis jutaan tahun lalu.
Gunung Kuda sendiri merupakan bagian dari gugusan Gunung Koromong, yang mencakup beberapa gunung kecil seperti Gunung Bendera, Gunung Kerud, dan Gunung Goong. Nama “Koromong” merujuk pada bentuk gunung-gunung tersebut yang menyerupai perangkat gamelan, khususnya gong kecil.
“Makanya, masyarakat menyebut gugusan ini sebagai Gunung Koromong, karena bentuknya mirip alat musik tradisional,” kata Naro. *** (irvan/sap)





