Presiden Korsel, Lee Jae-myung Janji Pulihkan Demokrasi dan Ekonomi

Seoul, lensademokrasi.com — Lee Jae-myung resmi dilantik sebagai Presiden Republik Korea dalam upacara pengambilan sumpah di Majelis Nasional, Seoul, Rabu (4/6/2025), menandai babak baru bagi negara yang tengah bergulat dengan krisis politik dan stagnasi ekonomi.

Dalam pidato perdananya, Lee menyampaikan komitmen kuat untuk memulihkan demokrasi dan membangkitkan ekonomi nasional yang terpuruk pasca pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol.

“Ini bukan sekadar pergantian kekuasaan. Ini adalah awal dari pemulihan demokrasi, persatuan nasional, dan kebangkitan ekonomi,” tegas Lee dalam pidato kenegaraan yang disiarkan langsung.

Lee mengambil alih tampuk kekuasaan di tengah tekanan berat: proyeksi pertumbuhan ekonomi hanya 0,8 persen—terendah sejak pandemi COVID-19 tahun 2020—serta masyarakat yang terpolarisasi akibat krisis konstitusional akhir 2024. Saat itu, Presiden Yoon mendeklarasikan darurat militer yang kemudian memicu pemakzulan oleh parlemen.

Selain agenda domestik, Lee juga menyinggung pentingnya diplomasi dalam menghadapi ketegangan di Semenanjung Korea.

“Betapapun mahalnya, perdamaian tetap lebih baik daripada perang,” ujarnya, mengisyaratkan terbukanya peluang dialog dengan Korea Utara.

Pemilu Darurat dan Transisi Kilat
Komisi Pemilihan Nasional secara resmi menetapkan Lee sebagai presiden terpilih pada pukul 06.21 waktu setempat (21.21 WIB). Sesuai konstitusi, ia langsung menjabat tanpa masa transisi karena sebelumnya negara dipimpin oleh pelaksana tugas presiden.

“Komisi menyatakan Lee Jae-myung dari Partai Demokrat sebagai Presiden Republik Korea,” kata Ketua Komisi Pemilihan, Roh Tae-ak.

Biasanya, presiden terpilih menjalani masa transisi 60 hari. Namun, situasi darurat mempercepat proses peralihan kekuasaan.

Lee meraih kemenangan dengan 48 persen suara, unggul dari kandidat konservatif Kim Moon Soo yang memperoleh 42,7 persen. Dengan lebih dari 86 persen suara dihitung, Kim mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada Lee. “Saya menerima dengan rendah hati keputusan rakyat,” ujar Kim dalam konferensi pers.

Pemilu ini digelar secara mendadak sebagai konsekuensi dari krisis politik yang dipicu langkah darurat militer Yoon Suk Yeol. Sekitar 44,4 juta warga memberikan suara di lebih dari 14 ribu TPS, dengan tingkat partisipasi tinggi meski diwarnai ketidakpastian.

Dari Pabrik ke Istana: Perjalanan Inspiratif
Kisah hidup Lee menjadi simbol harapan bagi banyak rakyat Korea. Terlahir dari keluarga miskin, ia bekerja di pabrik sejak remaja dan mengalami kecelakaan kerja yang menyebabkan cacat permanen pada lengannya. Pada masa tersulit, ia bahkan sempat mencoba mengakhiri hidup.

Namun, semangat juangnya membawa perubahan besar. Lee meraih beasiswa penuh ke Universitas Chung-Ang dan menjadi pengacara hak asasi manusia. Karier politiknya dimulai pada 2005. Ia pernah menjabat Wali Kota Seongnam dan Gubernur Gyeonggi sebelum kalah tipis dari Yoon pada Pilpres 2022—selisih terkecil dalam sejarah pemilu Korea Selatan.

Meski sempat tersandung kasus hukum terkait dugaan korupsi dan pelanggaran pemilu, Lee membantah semua tuduhan. Kini, proses hukum terhadapnya ditangguhkan selama masa jabatan hingga 2030.

Awal Baru bagi Bangsa
Menutup pidatonya, Lee menyerukan persatuan nasional dan tekad bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik.

“Hari ini bukan hanya awal bagi saya sebagai presiden, tapi bagi seluruh rakyat Korea. Saya tidak akan mengecewakan harapan Anda semua,” tandasnya. *** Sumber: DW (irvan/sap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *