Trump vs Musk: Dari Lawan Politik menjadi Sekutu, Kini Bermusuhan

Washington, lensademokrasi.com — Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pengusaha teknologi Elon Musk resmi memburuk. Padahal, keduanya sebelumnya sempat menjalin kemitraan erat dalam urusan pemerintahan dan politik.

Puncak perseteruan terjadi pada Kamis (5/6/2025), ketika Trump melontarkan kritik terbuka kepada Musk di Ruang Oval, Gedung Putih, menyusul upaya Musk menggagalkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Besar-besaran yang menjadi tulang punggung agenda politik Trump di masa jabatan keduanya.

Musk menyebut RUU tersebut sebagai “aib menjijikkan”, dan bahkan mengancam menghentikan program vital SpaceX untuk NASA. Ketegangan ini memicu perang pernyataan terbuka yang memperlihatkan pecahnya hubungan dua tokoh besar AS.

Dari Saling Sindir ke Kursi Kabinet
Relasi keduanya berawal dari ketegangan. Dalam wawancara sebelum Pilpres 2016, Musk menyebut Trump “bukan sosok yang tepat” untuk memimpin AS, dan lebih mendukung Hillary Clinton karena dinilai memiliki kebijakan ekonomi dan lingkungan yang lebih masuk akal.

Namun pasca-Trump terpilih, Musk bergabung dalam beberapa dewan penasihat Gedung Putih, termasuk “Dewan Pekerjaan Manufaktur”. Kerja sama ini tak bertahan lama—Musk mundur setelah AS menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris. “Perubahan iklim itu nyata. Keluar dari Paris tidak baik bagi Amerika maupun dunia,” cuitnya saat itu.

Politik Uang dan Aliansi Strategis
Meski hubungan formal sempat renggang, Musk tetap menjalin kedekatan tak langsung lewat kontrak miliaran dolar antara SpaceX dan pemerintah federal. Pada 2020, Trump bahkan menyebut Musk sebagai “otak jenius” saat menghadiri peluncuran roket SpaceX di Florida.

Musk kemudian berpaling dari Partai Demokrat pada 2022 dan mengaku akan mendukung Partai Republik. Tapi dia juga terang-terangan menentang Trump untuk kembali maju di Pilpres 2024. Ketegangan pun kembali mencuat, Trump menyebut Musk sebagai “penipu besar”, dan Musk membalas lewat cuitan agar Trump “berlayar ke matahari terbenam”.

Ironisnya, Musk kemudian memulihkan akun Twitter Trump setelah mengakuisisi platform tersebut pada akhir 2022.

Pengaruh Politik dan Kemunculan DOGE
Hubungan kembali menghangat setelah Trump selamat dari upaya pembunuhan pada 2024. Musk langsung menyatakan dukungan dan menggelontorkan dana sekitar 277 juta dolar AS melalui super PAC pro-Trump. Trump pun mengganjarnya dengan posisi strategis sebagai kepala Department of Government Efficiency (DOGE), lembaga baru yang bertugas memangkas belanja pemerintah.

DOGE langsung menjadi kekuatan penting. Musk memimpin pemangkasan besar-besaran birokrasi dan bahkan nyaris membubarkan sejumlah lembaga federal. Ia pun aktif di lingkaran dalam, ikut rapat kabinet, terbang dengan Air Force One, dan menyebut di platform X bahwa dirinya “mencintai Trump sebanyak pria hetero bisa mencintai pria lain.”

Dari Harmonis ke Konflik Terbuka
Namun, keakraban itu tidak bertahan lama. Menjelang habis masa tugasnya sebagai pejabat federal khusus pada akhir Mei 2025, Musk mulai mengkritik keras RUU prioritas Trump yang memperpanjang pemotongan pajak, menaikkan anggaran perbatasan, dan menghapus insentif energi bersih.

Pada 30 Mei 2025, Musk resmi mundur. Tapi konflik justru semakin panas. Ia menyebut RUU itu “menjijikkan”, mengancam SpaceX, dan menyiratkan bahwa Trump tak akan menang pemilu tanpa bantuannya.

Trump tak tinggal diam. Ia mengancam membatalkan kontrak-kontrak pemerintah untuk perusahaan Musk dan menyebut Musk “kelewat batas”. “Saya sudah hapus mandat mobil listrik yang dia tahu akan saya batalkan sejak lama,” ujar Trump.

Musk membalas lebih keras. Ia menyebut nama Trump masuk dalam dokumen rahasia kasus Jeffrey Epstein dan memperingatkan Partai Republik: “Trump cuma punya 3,5 tahun lagi. Tapi saya masih akan ada di sini 40 tahun ke depan.”

Aliansi Rapuh Politik Amerika
Gedung Putih menyebut konflik ini sebagai “episode disayangkan dari Elon Musk.” Namun faktanya, hubungan Trump dan Musk telah berubah total — dari lawan politik, menjadi sekutu dekat, dan kini kembali bermusuhan secara terbuka.

Keadaan ini menunjukkan betapa rapuh dan dinamisnya aliansi politik di Amerika modern — bahkan antara dua tokoh paling berkuasa sekalipun. *** Sumber : CBS (irvan/sap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *