
Pemerintah dorong mahasiswa Al-Khairiyah terlibat dalam pengembangan Desa Ekspor, desa wisata, dan rantai pasok MBG berbasis potensi lokal.
Cilegon, lensademokrasi.com — Penguatan ekonomi desa dinilai memerlukan dukungan sumber daya manusia terdidik agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Di tengah upaya meningkatkan kontribusi desa terhadap perdagangan nasional, pemerintah mulai mendorong keterlibatan perguruan tinggi untuk mempercepat lahirnya pelaku usaha baru berbasis potensi lokal.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menyampaikan ajakan tersebut saat menghadiri kegiatan Syiar Ramadhan Al-Khairiyah di Citangkil, Cilegon, Sabtu (28/2/2026). Ia mengemukakan bahwa desa memiliki ruang besar untuk masuk ke pasar ekspor apabila didukung penguatan manajemen usaha dan akses jaringan perdagangan.
Menurut Yandri, terdapat 75.266 desa di Indonesia yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Sebagian di antaranya telah mengembangkan produk unggulan melalui badan usaha milik desa (BUMDesa), termasuk untuk kebutuhan pasar luar negeri. Pemerintah, kata dia, tengah memperluas skema Desa Ekspor untuk meningkatkan skala usaha dan nilai tambah komoditas.
Ia mendorong agar Al-Khairiyah membangun model desa binaan di Banten, yang jumlahnya lebih dari 1.000 desa. Melalui pola pendampingan tersebut, mahasiswa dan alumni dapat terlibat dalam pengembangan produk, pengemasan, pemasaran digital, hingga penjajakan mitra dagang.
Keterlibatan kampus, lanjutnya, diharapkan memperkuat aspek perencanaan bisnis dan inovasi, yang kerap menjadi kendala pelaku usaha desa. Selain sektor ekspor, mahasiswa juga didorong berkontribusi dalam pengembangan desa wisata dan desa tematik sesuai potensi masing-masing wilayah.
Konsep desa tematik, menurut Yandri, dapat diintegrasikan dengan kebutuhan rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG). Desa yang terfokus pada komoditas tertentu berpeluang menjadi pemasok bahan baku, seiring meningkatnya cakupan penerima manfaat program tersebut yang disebut telah melampaui 60 juta orang.
Pendekatan itu menempatkan desa sebagai bagian dari sistem produksi yang terhubung dengan program nasional, bukan sekadar penerima manfaat. Namun, keberlanjutan skema tersebut akan bergantung pada kesiapan produksi, jaminan mutu, serta konsistensi permintaan.
Selain agenda ekonomi, kegiatan di lingkungan Al-Khairiyah juga mencakup penugasan mahasiswa ke masjid-masjid selama Ramadan sebagai bagian dari aktivitas sosial-keagamaan.
Sejumlah pejabat daerah dan pimpinan lembaga pendidikan turut hadir dalam kegiatan tersebut, bersama jajaran Kemendes PDT. *** (fatoni/sap)





