Pemulihan Pesisir Hidupkan Kembali Wisata Tanjung Lesung

Pemulihan ekosistem pesisir dinilai menjadi kunci kebangkitan wisata Tanjung Lesung, dengan kolaborasi pelestarian lingkungan dan peran aktif masyarakat lokal.

Banten, lensademokrasi.com — Ketergantungan kawasan wisata pesisir terhadap kondisi lingkungan semakin terasa di Kabupaten Pandeglang. Kerusakan terumbu karang, abrasi pantai, dan tekanan aktivitas manusia menjadi faktor yang ikut memengaruhi daya saing destinasi wisata bahari seperti Tanjung Lesung, yang selama ini diharapkan menjadi motor ekonomi daerah.

Upaya memperbaiki kondisi tersebut tidak cukup mengandalkan kebijakan pemerintah semata. Keterlibatan dunia usaha dan komunitas lokal mulai dipandang sebagai elemen penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Salah satu inisiatif yang mendapat perhatian adalah program pelestarian lingkungan pesisir yang dilaksanakan di kawasan Pantai Lalassa, Tanjung Lesung.

Anggota DPD RI asal Provinsi Banten, Ade Yuliasih, menilai langkah kolaboratif semacam ini memberi sinyal positif bagi daerah. Menurutnya, pelestarian lingkungan pesisir harus berjalan seiring dengan agenda pemulihan pariwisata agar manfaat ekonomi tidak mengorbankan daya dukung alam. “Pendekatan tersebut relevan bagi wilayah pesisir Banten yang memiliki potensi wisata, namun rentan terhadap degradasi lingkungan,” kata Ade saat menghadiri Program Alam Lestari di Pantai Lalassa, Kawasan Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu (14/1/2026).

Program yang digelar di Tanjung Lesung mencakup berbagai kegiatan rehabilitasi ekosistem laut dan pesisir, mulai dari penguatan vegetasi pantai hingga pengembangan sarana edukasi konservasi maritim. Selain berfungsi memulihkan lingkungan, inisiatif ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan tentang pentingnya menjaga ekosistem laut.

Dari perspektif pengelola, kegiatan konservasi diposisikan sebagai investasi jangka panjang bagi sektor pariwisata. Laut yang sehat dan ekosistem terjaga menjadi prasyarat berkembangnya wisata bahari yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang keterlibatan masyarakat lokal dalam aktivitas ekonomi berbasis lingkungan.

Meski demikian, tantangan implementasi tetap ada. Banyak program konservasi yang berjalan tanpa keberlanjutan karena lemahnya pendampingan dan keterbatasan sumber daya di tingkat lokal. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat pesisir, upaya rehabilitasi berisiko berhenti sebagai proyek sesaat.

Ke depan, konsistensi dan kolaborasi lintas pihak menjadi faktor penentu keberhasilan. Jika inisiatif pelestarian lingkungan mampu terintegrasi dengan kebijakan daerah dan kebutuhan masyarakat, Tanjung Lesung berpeluang berkembang sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menarik secara ekonomi, tetapi juga tangguh secara ekologis. *** (fatoni/sap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *